Belajar Memahami
Melihat banyak komentar baik di Instagram, Facebook, atau di Twitter, terkait pembacaan puisi oleh ibu Sukmawati. Banyak respon bermunculan. Ada yang hanya biasa saja, ada yang pro terhadap puisi tersebut, bahkan ada juga yang marah. Melihat komentar-komentar di sana, jujur yang terlintas di pikiran saya adalah, ngeri..
Jadi di sini saya mencoba untuk memberikan opini saya terhadap hal tersebut.
Kalau saya, "mencoba mengerti" dengan apa yg di "pikirkan" oleh bu sukma. Mungkin puisi tersebut ditulis, diawali dari kegalauan beliau melihat kondisi sosial budaya di Indonesia saat ini. (Biasanya, baik itu penulis, komedian, bahkan peneliti, berangkat dari pertanyaan-pertanyaan dan kegelisahannya terhadap suatu fenomena atau kejadian, hingga akhirnya menuliskan pandangannya melalui sebuah karya).Dulu kita lihat, keseharian wanita Indonesia di Jawa, cenderung menggunakan sanggul atau konde. Bahkan di beberapa buku-buku bacaan dulu, banyak gambar ibu menggunakan konde atau sanggul. Kalau yang saya tangkap, gambar tersebut sebenarnya ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa terlihat anggun dengan menggunakan sanggul atau konde. Bahkan nenek-nenek atau si mbah di Jawa, masih setia menggunakan sanggul sehari-hari.
Tapi sekarang kita sudah bisa melihat, bahwa jilbab kini sudah menjadi bagian dari kehidupan perempuan indonesia (di luar dari kewajiban itu sendiri). Kenapa hal itu terjadi? Menurut saya, karena manusia semakin belajar. Manusia semakin merasa kurang pada ilmu. Akan ada saatnya, dimana manusia akan berada pada titik terendah dalam hidupnya. I mean, di saat itu kita akan sangat "membutuhkan" Tuhan yang notabene adalah Sang Maha Kuasa. Yang akan selalu ada untuk umat Nya. Akhirnya tanpa disadari, manusia mulai mencari eksistensinya terhadap hidup. Tujuan hidupnya untuk apa. Bagaimana cara ia hidup selama ini. Dan mempertanyakan kuasa Tuhan..
Itulah yang menjadikan manusia akhirnya semakin menyadari bahwa selama hidupnya banyak hal yang diserukan oleh Tuhan namun tidak ia lakukan. Oleh karena itu, manusia berbondong-bondong untuk mendekat padaNya. Mempelajari agamaNya, mencoba mematuhi perintahNya.
Jika memang puisi itu dibuat dari rasa rindu akan "pemandangan" zaman dulu, itu wajar.
Tapi yg saya kritisi dan tidak setujui adalah, ketika beliau menyinggung atau membicarakan kegelisahannya dengan menjadikan islam dan syariatnya sebagai kambing hitam.
Tidak sepantasnya menjadikan islam, adzan, jilbab, atau pun cadar, sebagai bagian dari kekesalan dan bahan "pelampiasan" pada keinginannya untuk melihat Indonesia yang dulu. Seperti kidung atau suara kecapi di kaki bukit. Suara suling yang dimainkan si gembala sapi di dekat sawahnya. Perempuan-perempuan dengan sanggul dan konde di kepalanya.
Rindu pada hal-hal yang lalu boleh.
Marah pada hal-hal yang baru boleh.
Tapi.. cobalah kita belajar dan mencoba memahami, apa makna yang telah lalu, dan apa maksud dari hal baru. Tidak semata-mata kemudian menjadikan sebuah agama (read Islam) disudutkan karna dianggap telah "menghilangkan" semua kebiasaan pada waktu lalu..
Kita tidak bisa membandingkan sesuatu pada hal yang memang sudah menjadi jiwa dalam sebuah agama. Like adzan dan jilbab dalam Islam. Hal itu tidak akan bisa dibandingkan dengan apapun. Bahkan di semua agama pun mungkin seperti itu.
Semoga dari kejadian ini, kita diberikan keluasan berpikir, serta diberi kecintaan terhadap ilmu dan belajar..
Agar setiap langkah yang kita ambil, membuka jalan yang baik dan positif.
Agar setiap kata yang terucap, tidak melukai siapapun.
Agar pikiran yang lahir, selalu positif dan tidak meremehkan ide-ide yang lain.
Selamat belajar. :))
Lombok Timur, di sela-sela jam istirahat sekolah.
#gurumenulis
Komentar
Posting Komentar